Sabtu, 05 Maret 2011

Malaysia Dan Konflik Internasional


Malaysia adalah sebuah negara federasi yang terdiri dari tiga belas negara bagian dan tiga wilayah persekutuan di Asia Tenggara dengan luas 329.847 km persegi. Ibukotanya adalah Kuala Lumpur, sedangkan Putrajaya menjadi pusat pemerintahan persekutuan. Jumlah penduduk negara ini melebihi 27 juta jiwa. Negara ini dipisahkan ke dalam dua kawasan — Malaysia Barat dan Malaysia Timur — oleh Kepulauan Natuna, wilayah Indonesia di Laut Cina Selatan. Malaysia berbatasan dengan Thailand, Indonesia, Singapura, Brunei, dan Filipina. Negara ini terletak di dekat khatulistiwa dan beriklim tropis. Kepala negara Malaysia adalah Yang di-Pertuan Agong dan pemerintahannya dikepalai oleh seorang Perdana Menteri. Model pemerintahan Malaysia mirip dengan sistem parlementer Westminster.

Malaysia sebagai negara persekutuan tidak pernah ada sampai tahun 1963. Sebelumnya, sekumpulan koloni didirikan oleh Britania Raya pada akhir abad ke-18, dan paro barat. Malaysia modern terdiri dari beberapa kerajaan yang terpisah-pisah. Kumpulan wilayah jajahan itu dikenal sebagai Malaya Britania hingga pembubarannya pada 1946, ketika kumpulan itu disusun kembali sebagai Uni Malaya. Karena semakin meluasnya tentangan, kumpulan itu lagi-lagi disusun kembali sebagai Federasi Malaya pada tahun 1948 dan kemudian meraih kemerdekaan pada 31 Agustus 1957.


Pada 16 September 1963 sesuai dengan Resolusi Majelis Umum PBB 1514 dalam proses dekolonialisasi, Singapura, Sarawak, Borneo Utara atau yang sekarang lebih dikenal sebagai Sabah berubah menjadi negara bagian dari federasi bentukan baru yang bernama Malaysia termasuk dengan Federasi Malaya. dan pada 9 Agustus 1965 Singapura kemudian dikeluarkan dari Malaysia dan menjadi negara merdeka yang bernama Republik Singapura. saat tahun-tahun awal pembentukan federasi baru terdapat pula tentangan dari Filipina dan konflik militer dengan Indonesia.

#####

Setelah melihat sejarah singkat dari Malaysia, kita bisa melihat kalau sebetulnya Bangsa Malaysia itu tidak ada dan ada setelah di tahun 1964 “mendapatkan” kemerdekaan dari Britania. Diawal terbentuknya juga terdapat banyak konflik antara Bangsa baru tersebut dengan Bangsa-bangsa lain yang sudah ada sebelumnya di sekitarnya. Konflik politik dengan Singapura dan Brunei yang berlanjut keluarnya Singapura dan Brunei dari Malaysia. Konflik kepemilikan daerah Borneo Utara atau Kalimantan Utara dengan Indonesia, Filipina dan Brunei juga menghiasi awal pembentukannya.

Seperti diketahui bahwa Malaysia itu tidak ada dan baru ada baru-baru ini setelah dibentuk oleh pemerintahan kolonial Britania. Berbeda seperti Filipina, Brunei dan Indonesia yang memiliki sejarah panjang atas daerah-daerah yang dikalimnya. Malaysia mengklaim daerah-daerah yang ingin dikuasainya hanya berdasarkan sejarah kesultanan disemenanjung Malaka dan pemerintahan kolonialisme Britania di Borneo Utara atau Kalimantan Utara. Melihat runutan sejarah yang valid dari terbentuknya kekuasaan Malaysia adalah kekuasaan Kesultanan di Semenanjung Malaka.

Borneo Utara yang terdiri dari Serawak dan Sabah sampai saat ini setatusnya di PBB (UN) adalah Non-Self-Governing Territories. Karena berdasarkan perjanjian bangkok tahun 1967, Borneo Utara (Sabah dan Serawak) akan diadakan pemilihan yang disponsori oleh PBB untuk menentukan keinginan rakyat Borneo Utara. Tapi sampai saat ini tidak ada isyarat dari Malaysia akan melakukan pemilihan itu, sehingga klaim Brunei, Filipina dan Indonesia atas daerah tersebut menjadi menggantung. Padahal sesuai sejarah yang valid atas klaim daerah tersebut Brunei. Filipina dan Indonesia lebih memiliki catatan sejarah didaerah tersebut ketimbang Malaysia yang tidak memiliki history atas daerah Borneo Utara. Sehingga tahun 1965 Indonesia menyatakan perang terhadap Malaysia karena tidak mengindahkan perjanjian Manila yang telah disepakati tahun 1964 untuk melakukan pemilihan suara atas daerah tersebut.

Tidak hanya didaerah Borneo Utara saja konflik internasional yang dihadapi Malaysia, tapi juga menyangkut beberapa klaim atas daerah yang sudah diduduki oleh Singapura. Pulau Batu Puteh dikalim oleh Malaysia dalam petanya tahun 1979, tapi Singapura melakukan penolakan atas peta tersebut dan membangun sebuah mercusuar dipulau seluas 0,8 hektar tersebut. Dan konflik itu meluas hingga konflik masyarakat dan militer walaupun tidak sampai meletus bentrokan bersenjata antara kedua belah pihak. Hingga akhirnya pada sidang dimahkamah internasional pada 23 mei 2008, Singapuralah yang mendapatkan klaim atas satu pulau strategis dijalur pelayaran internasional tersebut. Hal ini membuat Kesultanan Johor merana dan marah, karena merasa pulau-pulau tersebut adalah milik Kesultanan Johor.

Malaysia juga menghadapi konflik dengan Indonesia, negara tetangganya diselatan. Konflik itu terdiri dari konflik perbatasan laut ZEE (Zona Ekonomi Eklusif) di laut Natuna dan Ambalat. Pulau Sipadan dan Ligitan juga menjadi sumber konflik kedua negara tersebut, tapi konflik klaim tersebut selesai setelah Mahkamah Internasional memutuskan menyerahkan kedua pulau tersebut kepada Malaysia yang telah terlebih dahulu membangun sebuah Resort dikedua pulau tersebut. Konflik kedua pulau tersebut tersebut merembet ke perbatasan laut ZEE di Ambalat (Ambang Batas Laut) dilaut Sulawesi yang sampai sekarang belum terselesaikan. Konflik tersebut juga tidak hanya dilaut tetapi juga di perbatasan darat dipulau sebatik dan Kalimantan. Malaysia banyak mengklaim perbatasan dengan Indonesia dengan sepihak, seperti pengeluaran peta tahun 1979 yang membingungkan Indonesia, Filipina, Brunei dan Singapura atas keseriusan Malaysia dalam menentukan daerah kekuasaannya. Konflik antara Indonesia dan Malaysia juga meluas sampai klaim Malaysia atas kebudayaan-kebudayaan Indonesia.

Malaysia juga menghadapi konflik dengan Brunei, Filipina, Vietnam, Taiwan dan RRC atas klaim kepulauan Spratly. Konflik-konflik ini sehingga membuat militer Malaysia banyak membelanjakan uang negaranya untuk memoderenisasi peralatan perangnya. Konflik ini menguras dana yang begitu besar uang negara, seperti perluasan-perluasan beberapa pulau Spratly untuk dijadikan markas militer. Konflik ini juga membuat Malaysia membeli Jet-jet tempur, Tank, Kapal selam, kapal perang dan persenjataan lainnya untuk meninggikan kedudukan tawar-menawar Malaysia terhadap klaim-klaim yang menimbulkan konflik tersebut.

NB: Malaysia adalah anggota persemekmuran (Organisasi yang dibentuk Britania atas kawasan yang dijajahnya). Hal ini membuat angkuh dan sombong rakyat Malaysia dalam menghadapi konflik-konflik yang dipicunya. Akan tetapi mereka tidak sadar dengan kekuatan yang mereka hadapi dalam konflik ini, Diantaranya :

1. Singapura dan Brunei yang juga anggota Persemakmuran, sehingga akan merendahkan keikutsertaan Persemakmuran dalam ikut campur konflik yang terjadi antara mereka.

2. Filipina yang sekutu dekat USA (Amerika Serikat), dan USA adalah sekutu dekat Britania dan Australia yang anggota terbesar di Persemakmuran. Ini Juga akan merendahkan ke ikut sertaan Persemakmuran dalam konflik antara mereka.

3. Indonesia adalah negara yang menganut kebijakan luar negeri bebas-aktif yang tidak memiliki sekutu tapi memiliki hubungan bilateral yang baik dengan negara-negara lain. Apalagi Indonesia punya diplomasi yang baik dengan negara-negara dunia ketiga, sehingga akan mendapatkan dukungan luarnegeri yang besar jika Malaysia melakukan bentrok dengan Indonesia.

4. Konflik kepulauan Spartly yang berhadapan dengan RRC, Vietnam dan Taiwan adalah hal yang tidak masuk akal bagi Malaysia. Jika terjadi bentrok atas konflik kepulauan tersebut, maka tidak mungkin Malaysia akan hancur.

 http://museumindo.wordpress.com/



Keep Never Say Die Attitude & Down To Earth

Tidak ada komentar:

Posting Komentar