Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan
Minggu, 26 Juni 2011
Inilah dia calon pemimpin bangsa Indonesia: Kapten. Infantri. Agus Harimurti Yudhoyono, M.Sc, M, PA
Inilah dia calon pemimpin bangsa Indonesia, 15 atau 20 tahun kedepan yaitu Kapten. Infantri. Agus Harimurti Yudhoyono, M.Sc, M, PA. Pria berkelahiran 10 Agustus 1978 ini rasanya memang telah disiapkan oleh keluarga untuk menjadi seorang pemimpin yang terbaik untuk bangsa ini. Mulai dari segi Internal dan Eksternal telah dipersiapkan khusus oleh keluarga. Internal mungkin agus terlihat sebagai Pria yang santun dan sangat berwibawa dan dari sisi eksternal agus telah dibekali pendidikan yang sangat mumpuni oleh keluarga.
Agus memang pantas untuk rasanya diplot oleh keluarga cikeas untuk menjadi pimpinan bangsa ini kedepannya. walaupun masih berusia 32 tahun beliau sudah bisa menggabungkan 2 gelar atau kepangkatan yang sangat bergengsi yang telah disandang oleh dirinya. yang pertama beliau diusia sekarang temasuk yang bersinar diangkatannya dengan pangkat Kapten Infantri.
Selain itu beliau juga bergabung, dengan kesatuan elite di tubuh Angkatan Darat yaitu sebagai Perwira Komando Strategis Angktan Darat (kostrad) Agus juga Ikut sebagai pasukan perdamaian kontingen garuda XXIII/A yang telah diberangkatkan sebagai bagian dari pasukan perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL). Ia tergabung dalam Unit Mekanis.
Belum lagi berbagai prestasi yang ia raih seperti ia meraih bintang Adimakayasa atau gelar yang diberikan kepada lulusan terbaik Akademi Militer pada tahun 2000, gelar ini menyamai prestasi sang ayah yang mendapat gelar serupa pada Tahun 1973 yaitu DR. Susilo Bambang Yudhoyono. Sebelumnya sewaktu bersekolah di Sekolah Menengah Atas Taruna Nusantara, Magelang. Agus juga menjadi jadi yang terbaik sewaktu bersekolah di SMA tersebut.
Selain gelar didepan yang sebutkan diatas, agus juga masih memiliki 2 gelar yang mentereng kedua gelar tersebut ia peroleh dari Universitas luar negeri seperti gelar M.SC didapat dari National Technologi University, Singapura (2006) dan gelar M.PA nya diperoleh dari Harvard University pada tahun (2009).
Rasanya bukan hal yang mustahil, di usai yang belum 40 tahun saya meramalkan bahwa agus sudah dapat merampungkan pendidikan Strata 3 nya, atau sudah mengemban gelar DR atau Ph,D. Anda bisa bayangkan bersama bagaimana seorang perwira militer aktif dengan gelar DR, kurang apalagi rasanya untuk menjadi pemimpin di negeri ini. Untuk seorang Agus harimurti untuk menyelesaikan S3 nya bukan hal perkara yang sulit, karena memang beliau memiliki Intelektualitas yang tinggi dan cerdas pemikirannya.
Belum lagi hal ini ditunjang dengan sang ayah yang masih menjabat sebagai orang nomor satu negeri ini yang tentunya sangat menunjang karir agus kedepannya. Paling tidak 4 tahun kedepan Agus sudah berpangkat Mayor atau Letkol apabila nasib dan takdirnya bagus. Atau paling tidak selama 15 tahun kedepan agus sudah menyandang Pangkat Brigjen atau Mayjen, apabila tidak ada aral melintang.
Kita doakan saja bersama, mudah-mudahan selama 15 tahun terakhir ini agus dapat mempersiapkan dirinya untuk dapat menjadi yang terbaik di negeri ini.
Keep Never Say Die Attitude & Down To Earth
Sabtu, 27 November 2010
Politik Soeharto terhadap Militer
Sudah menjadi pengetahuan umum, militer di Indonesia yang menjelma dalam Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI)-kini Tentara Nasional Indonesia (TNI) plus Polisi Republik Indonesia (Polri)-adalah satu komponen negara yang memiliki nilai politis dan strategis tersendiri. Meskipun senantiasa menampilkan citra solid dan independen, namun bukan rahasia lagi dalam tubuh lembaga militer tersebut hubungan di antara berbagai kelompok kepentingan di dalamnya tidak selalu berjalan harmonis.
Jumat, 22 Oktober 2010
Bung Karno Minta Diadili
Memakai batik warna kuning, Haji Maulwi Saelan, sudah siap di depan meja di ruang kerjanya. Di kepalanya bertengger songkok rotan khas Sulawesi Selatan. Kolonel Purnawirawan Saelan, menerima TEMPO di rumah yang juga sekaligus kantornya. Dari rumahnya yang sederhana di Jalan Bendungan Jatiluhur, pucuk gedung MPR/DPR, Senayan, tampak jelas. Disana pula ketetapan-ketetapan MPRS yang dianggap menistakan Presiden Pertama, Ir.Sukarno, dibahas.
Hasilnya Sidang Tahunan MPR 2003 yang ditutup Kamis pekan lalu, rekomendasi dari Komisi Saran tentang Sukarno adalah menyerahkan kepada Presiden untuk merehabilitasi nama baik para pahlawan yang telah berjasa pada negara dan bangsa, termasuk Bung Karno. “Seharusnya ketetapan MPRS yang menyudutkan itu dicabut juga dengan ketetapan lembaga tertinggi negara itu,”kata bekas ajudan Presiden Sukarno itu.Mantan Wakil Komandan Resimen Tjakrabirawa itu menerima Ahmad Taufik dari TEMPO dan fotografer Budiyanto untuk wawancara. Inilah petikannya :
Hasilnya Sidang Tahunan MPR 2003 yang ditutup Kamis pekan lalu, rekomendasi dari Komisi Saran tentang Sukarno adalah menyerahkan kepada Presiden untuk merehabilitasi nama baik para pahlawan yang telah berjasa pada negara dan bangsa, termasuk Bung Karno. “Seharusnya ketetapan MPRS yang menyudutkan itu dicabut juga dengan ketetapan lembaga tertinggi negara itu,”kata bekas ajudan Presiden Sukarno itu.Mantan Wakil Komandan Resimen Tjakrabirawa itu menerima Ahmad Taufik dari TEMPO dan fotografer Budiyanto untuk wawancara. Inilah petikannya :
Detik-detik Menuju Istana Bogor
Dalam perjalanan hidup Bung Karno, peristiwa penyerahan surat perintah ke Soeharto, yang kemudian menggantikan Bung Karno menjadi presiden, mungkin bisa dikatakan sebagai momen yang menentukan. Sebelum penyarahan surat ini, ternyata suasana Jakarta tegang dan mencekam.
Pada 10 Maret malam, Bung Karno terpaksa diungsikan ke Istana Bogor karena alasan keamanan. Bagaimana Bung Karno melewati hari-hari yang menegangkan itu? Berikut lanjutan kesaksian Mangil seperti yang tertulis dalam bukunya berjudul Kesaksian tentang Bung Karno 1945–1967.
Pada 10 Maret malam, Bung Karno terpaksa diungsikan ke Istana Bogor karena alasan keamanan. Bagaimana Bung Karno melewati hari-hari yang menegangkan itu? Berikut lanjutan kesaksian Mangil seperti yang tertulis dalam bukunya berjudul Kesaksian tentang Bung Karno 1945–1967.
Rabu, 20 Oktober 2010
9 Dosa Malaysia Kepada Indonesia
Malaysia, sebuah negara merdeka yang belum berdaulat karena masih sungkem kepada Inggris sebagai Tuan Besarnya ini sudah sangat membuat nyeri dada rakyat Indonesia yang cinta damai.
Insiden penangkapan 3 petugas DKP Kepri oleh Marine Police Malaysia di perairan Tanjung Berakit, Bintan hanya puncak gunung es. Karena jika ditilik ke belakang, sudah Dosa-dosa Malaysia terhadap Indonesia.
Inilah Gaya Soeharto Saat Didemo RMS di Belanda
INILAH.COM, Jakarta - Meski disambut aksi demonstrasi oleh anggota Republik Maluku Selatan (RMS) di Den Haag pada 1970, Presiden Soeharto tetap tampil tenang dan penuh senyuman.
Dalam rekaman video dokumentasi yang didapat INILAH.COM, tampak Presiden Soeharto tiba di Istana Huis Ten Bosch dengan menumpangi helikopter.
Begitu mendarat, Soeharto dan Ibu Negara Tien Soeharto disambut Ratu Juliana dan Pangeran Bernhard. Presiden tampak sangat tenang dan tak terganggu sama sekali oleh aksi demonstrasi RMS. Dari bibirnya terlembar senyuman khas.
Dalam rekaman video dokumentasi yang didapat INILAH.COM, tampak Presiden Soeharto tiba di Istana Huis Ten Bosch dengan menumpangi helikopter.
Begitu mendarat, Soeharto dan Ibu Negara Tien Soeharto disambut Ratu Juliana dan Pangeran Bernhard. Presiden tampak sangat tenang dan tak terganggu sama sekali oleh aksi demonstrasi RMS. Dari bibirnya terlembar senyuman khas.
TNI AL Dan AL India Gelar Patroli Terkoordinasi Di Selat Malaka Dan Laut Andaman
Hubungan pertahanan yang terjalin antara Indonesia dan India telah berkembang dengan baik dan kedua bangsa telah diuntungkan oleh kegiatan kerjasama antarangkatan bersenjata dari kedua negara bersahabat ini.
TNI AL dan Indian Navy melaksanakan patroli terkoordinasi di mulut Selat Malaka dan laut Andaman dua kali dalam setahun sebagai bagian dari tindakan yang diambil untuk menjaga bagian dari Samudera Hindia ini aman dari ancaman yang ditujukan kepada pelayaran komersil.
TNI AL dan Indian Navy melaksanakan patroli terkoordinasi di mulut Selat Malaka dan laut Andaman dua kali dalam setahun sebagai bagian dari tindakan yang diambil untuk menjaga bagian dari Samudera Hindia ini aman dari ancaman yang ditujukan kepada pelayaran komersil.
Kamis, 14 Oktober 2010
Selangkah Lagi HMS Pahlawan Nasional
JAKARTA, KOMPAS.com- Penetapan nama mantan Presiden RI Soeharto sebagai pahlawan nasional tinggal selangkah lagi. Kini nama pemimpin Orde Baru itu tinggal diajukan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai pemegang keputusan apakah akan mengabulkan permintaan tersebut atau tidak.
Rabu, 13 Oktober 2010
SOEHARTO DAN KISAH PETRUS (PENEMBAK MISTERIUS) DI ERA 1980-an
Tahun 1980-an. Ketika itu, ratusan residivis, khususnya di Jakarta dan Jawa Tengah, mati ditembak. Pelakunya tak jelas dan tak pernah tertangkap, karena itu muncul istilah "petrus", penembak misterius. Tahun 1983 saja tercatat 532 orang tewas, 367 orang di antaranya tewas akibat luka tembakan. Tahun 1984 ada 107 orang tewas, di antaranya 15 orang tewas ditembak. Tahun 1985 tercatat 74 orang tewas, 28 di antaranya tewas ditembak. Para korban Petrus sendiri saat ditemukan masyarakat dalam kondisi tangan dan lehernya terikat. Kebanyakan korban juga dimasukkan ke dalam karung yang ditinggal di pinggir jalan, di depan rumah, dibuang ke sungai, laut, hutan dan kebun. Pola pengambilan para korban kebanyakan diculik oleh orang tak dikenal dan dijemput aparat keamanan.
Selasa, 05 Oktober 2010
Kisah ‘Polisi Baik’ dalam Kekuasaan Otoriter
Oleh: Rum Aly*
SETIAP berbicara mengenai bagaimana seharusnya model polisi yang ideal, orang akan menunjuk seorang tokoh: Hoegeng Iman Santoso. Sejauh ini, tak pernah ada yang menyangkal. Tetapi, barangkali Hoegeng Iman Santoso itu seorang ‘polisi baik’ yang berada di zaman yang ‘salah’. ‘The good’ akan selalu dikenang dan kisahnya akan dituturkan berulang-ulang. Namun sejarah dalam konteks Indonesia merdeka, sampai kini, menunjukkan betapa ‘the good’ dan segala kebaikan yang diwakilinya senantiasa dikalahkan oleh ‘the bad’ dan kumpulannya yang makin hari makin unggul lahir batin.
SETIAP berbicara mengenai bagaimana seharusnya model polisi yang ideal, orang akan menunjuk seorang tokoh: Hoegeng Iman Santoso. Sejauh ini, tak pernah ada yang menyangkal. Tetapi, barangkali Hoegeng Iman Santoso itu seorang ‘polisi baik’ yang berada di zaman yang ‘salah’. ‘The good’ akan selalu dikenang dan kisahnya akan dituturkan berulang-ulang. Namun sejarah dalam konteks Indonesia merdeka, sampai kini, menunjukkan betapa ‘the good’ dan segala kebaikan yang diwakilinya senantiasa dikalahkan oleh ‘the bad’ dan kumpulannya yang makin hari makin unggul lahir batin.
Tatkala Presiden Marah dan Tersinggung (3)
“Bagaimana dengan SBY? Wajah seriusnya yang kelihatan agak dingin, bila sedang menyampaikan uneg-uneg, sudah cukup sering terlihat di layar televisi. Namun, tata bahasa pidato ‘uneg-uneg’nya tetap terjaga, tidak seperti Soeharto yang menjadi agak kacau tata bahasanya bila sedang pidato tanpa teks”.
TANDA-tanda Jenderal Soeharto mulai gerah kepada bekas-bekas ‘partner’ pendukungnya, sebenarnya bukan betul-betul baru di tahun 1970 itu. Selain insiden gertak ‘tempiling’ yang ditujukan kepada tokoh 1966 Adnan Buyung Nasution 13 Juni 1967, pada kesempatan lain di tahun yang sama, 8 Nopember, sekali lagi Soeharto menunjukkan sikap yang telah berubah kepada ‘partner’ pendukungnya. Ini terlihat ketika ia menghadapi demonstrasi massa KAMI, KAPI dan KAPPI di depan Gedung Presidium Kabinet Jalan Merdeka Barat, yang meminta perhatiannya selaku Pejabat Presiden mengenai makin melonjaknya harga beras. Ia membiarkan massa menunggu dulu dua jam lamanya, sebelum menemui mereka. Dengan nada yang terasa agak ketus, ia berkata kepada massa yang dulu ikut mendukungnya menuju istana dengan menjatuhkan Soekarno, “Kalau kesatuan aksi bermaksud menindak orang yang bertanggungjawab atas kesukaran hidup dewasa ini, maka sayalah orangnya yang harus ditindak”.
TANDA-tanda Jenderal Soeharto mulai gerah kepada bekas-bekas ‘partner’ pendukungnya, sebenarnya bukan betul-betul baru di tahun 1970 itu. Selain insiden gertak ‘tempiling’ yang ditujukan kepada tokoh 1966 Adnan Buyung Nasution 13 Juni 1967, pada kesempatan lain di tahun yang sama, 8 Nopember, sekali lagi Soeharto menunjukkan sikap yang telah berubah kepada ‘partner’ pendukungnya. Ini terlihat ketika ia menghadapi demonstrasi massa KAMI, KAPI dan KAPPI di depan Gedung Presidium Kabinet Jalan Merdeka Barat, yang meminta perhatiannya selaku Pejabat Presiden mengenai makin melonjaknya harga beras. Ia membiarkan massa menunggu dulu dua jam lamanya, sebelum menemui mereka. Dengan nada yang terasa agak ketus, ia berkata kepada massa yang dulu ikut mendukungnya menuju istana dengan menjatuhkan Soekarno, “Kalau kesatuan aksi bermaksud menindak orang yang bertanggungjawab atas kesukaran hidup dewasa ini, maka sayalah orangnya yang harus ditindak”.
Tatkala Presiden Tersinggung dan Marah (2)
“Jangan coba-coba melakukan tindakan-tindakan inkonstitusional sebab akan saya hantam, siapa saja”, ujarnya. Mereka yang memakai kedok demokrasi secara berlebih-lebihan akan ditindak. “Beberapa nama kalangan militer dan sipil serta tokoh-tokoh kritis yang dekat dengan jenderal-jenderal intelektual, disebutkan dalam laporan tersebut terlibat konspirasi, lengkap dengan beberapa catatan yang detail”.
Tatkala Presiden Tersinggung dan Marah (1)
“JENDERAL Soeharto adalah seorang yang tampil sabar, santun dan bahkan kerapkali dianggap terlalu low profile pada masa-masa awal menapak ke dalam pucuk kekuasaan negara. Banyak kemiripannya dengan Susilo Bambang Yudhoyono yang pada tahun-tahun awal kepresidenannya dikenal sangat santun, sehingga kerap malah dianggap seorang yang lemah dan peragu”.
DALAM masa kepresidenannya yang pertama, khususnya pada tahun-tahun pertama, Susilo Bambang Yudhoyono yauh lebih sabar. Namun, setidaknya pada tahun terakhir periode kesatu itu, dan tahun pertama masa kepresidenannya yang kedua, saat ‘jam terbang’nya dalam kekuasaan sudah lebih tinggi, sang Presiden sedikit berubah. Menjadi lebih reaktif, untuk tidak menyebutnya lebih agresif dalam bereaksi, terutama bilamana ada lontaran kritik. Kadangkala kritik-kritik itu tampaknya sudah dianggap serangan terhadap dirinya pribadi yang bertujuan untuk menggoyang dan menjatuhkannya dari kekuasaan. Pada sisi lain, entah karena mendapat laporan intelejen, entah masukan apa, kadangkala Susilo Bambang Yudhoyono malah ‘berinisiatif’ melontarkan pernyataan-pernyataan yang dinilai tajam dan keras, sehingga akhirnya memancng reaksi dari tengah khalayak politik dan dari publik secara berkepanjangan.
DALAM masa kepresidenannya yang pertama, khususnya pada tahun-tahun pertama, Susilo Bambang Yudhoyono yauh lebih sabar. Namun, setidaknya pada tahun terakhir periode kesatu itu, dan tahun pertama masa kepresidenannya yang kedua, saat ‘jam terbang’nya dalam kekuasaan sudah lebih tinggi, sang Presiden sedikit berubah. Menjadi lebih reaktif, untuk tidak menyebutnya lebih agresif dalam bereaksi, terutama bilamana ada lontaran kritik. Kadangkala kritik-kritik itu tampaknya sudah dianggap serangan terhadap dirinya pribadi yang bertujuan untuk menggoyang dan menjatuhkannya dari kekuasaan. Pada sisi lain, entah karena mendapat laporan intelejen, entah masukan apa, kadangkala Susilo Bambang Yudhoyono malah ‘berinisiatif’ melontarkan pernyataan-pernyataan yang dinilai tajam dan keras, sehingga akhirnya memancng reaksi dari tengah khalayak politik dan dari publik secara berkepanjangan.
Senin, 04 Oktober 2010
Skenario IMF menjatuhkan Soeharto
Nilai rupiah jatuh menjadi Rp. 13.373 per dolar AS tidak lama setelah Presiden Soeharto menandatangani Letter of Intent (Lol) dengan Dana Moneter Internasional (IMF), 15 Januari 1998.
IMF yang semula diyakini sebagai dewa penyelamat, seakan membiarkan kondisi ekonomi semakin buruk.
Soeharto kecewa, bangunan puluhan tahun rontok dengan cepat !
Langganan:
Postingan (Atom)



